#Depresi dan Aku

Aku benar-benar ingin bahagia, tapi ada sesuatu di dalam diriku yang menjerit mengatakan bahwa kamu tidak pantas mendapatkannya.

Jika ada seorang artis yang dirudung depresi, seketika beberapa orang langsung menyalahkannya. Berkata ‘Kenapa dia bisa depresi? Padahal hidupnya sudah enak, jadi artis, banyak uang, terkenal, cantik/ganteng dsb’. Please, stop judge it! Kau tak akan tahu apa yang mereka sedang rasakan sebelum kau merasakannya juga. Depresi bukanlah tanda kelemahan seseorang maupun cacat karakter, tidak semudah kau bilang ‘bersyukur akan kehidupan’ lalu seketika sembuh.

Baca juga: Definisi Depresi dan Ciri-cirinya.

Awal mula menyadari depresi

Baru beberapa bulan di tahun ini, aku menyadari bahwa perubahan suasana hati yang aku alami adalah gejala depresi yaitu Persistent depressive disorder (PDD) atau kadang dikenal sebagai Dysthymia. Bagaimana aku menyadarinya?
Pada saat KKN aku bertemu dengan seseorang yang memiliki gejala mirip dengan ku, lalu ia bercerita bahwa dirinya telah dibawa ke Psikiater, namun nihil. Disanalah aku mencurigai diriku mengidap depresi. Mulailah aku dengan mencari data-data dan penjelasan terkait gejala depresi. Benarlah, aku menalami gejala tersebut. Mirisnya ternyata aku telah mengalami depresi mulai dari 2 tahun lalu.

Baca juga: Ini dia tipe-tipe depresi yang pasti belum kamu tahu.

Apa saja gejala yang aku alami?

Mungkin jika aku bercerita ini beberapa orang terdekatku tidak akan mempercayai bahwa aku menderita depresi. Dari luar aku bahkan terlihat baik-baik saja. Orang yang depresi tidak selalu terdiam aku juga terkadang tertawa dengan yang lainnya. Sekembalinya dikost, aku akan kembali merasa sedih, nangis, bila lelah tidur, dan begitu seterusnya. Ciri utama yang kerap terjadi adalah:

  • Sering merasa sedih, hampa, cemas secara persisten (terus-menerus).
  • Kehilangan selera atau rasa tertarik untuk melakukan aktivitas.
  • Mudah pesimis dan putus asa.
  • Berbicara atau bergerak lebih lambat daripada biasanya, sering merasa lelah dan tidak memiliki energi.
  • Melakukan kritikan yang sangat pedas pada diri sendiri (Self-criticism) yang menyebabkan timbulnya perasaan bersalah, tidak berdaya dan putus asa.
  • Sulit mempercayai orang lain, hingga beranggapan bahwa tak ada seorangpun yang tulus dan peduli.
  • Kurang mampu berkonsentrasi serta motivasi yang menurun sehingga menghambat kinerja kuliah.
  • Produktivitas dan prestasi menurun akibat depresi sehingga makin merasa down dan semakin tinggilah perasaan bersalah dan self-criticism yang dimiliki.
  • Keinginan untuk selalu tidur (hypersomnia) atau sebaliknya sulit tidur (insomnia).
  • Tidak memiliki nafsu makan atau sebaliknya.
  • Adanya pikiran-pikiran tentang bunuh diri atau pernah mencoba untuk melakukan bunuh diri.

Depresi dapat dialami oleh siapa pun, tanpa melihat latar belakang pendidikan, keuangan, dan berbagai titel lain yang disematkan padanya.

Apa yang menyebabkan aku mengidap depresi ?

Adapun faktor-faktor yang memperbesar resiko seseorang dapat mengalami depresi diantaranya gen, sakit menahun yang tak kunjung sembuh, mengalami fase kehidupan sulit, pengalaman atau peristiwa traumatis dan atau pernah mengalami depresi sebelumnya.

Dalam hal ini faktor yang kemungkinan besar menjadi penyebab depresi ku adalah fase kehidupan sulit dan peristiwa traumatis. Bagaimanakah?

Keluargaku adalah golongan sederhana dan biasa, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup pas-pasan kadang kurang. Namun, aku kecil adalah seorang anak yang ceria, kuat, selalu tersenyum dan membawa kebahagiaan kepada orang lain. Namun, itu dulu. Mulai kelas 3 SD aku mengalami kecelakaan hingga mengharuskan aku menjalani pengobatan akibat tulang kering dan betis ku patah. Akupun tidak bersekolah selama 6 bulan dan hanya mengikuti ujian susulan. Hidupku mulai berliku sejak saat itu, ayah dan ibu berpisah tempat tinggal akibat pekerjaan ayah yang katanya jauh dikota. Berbagai isu pun bermunculan, akupun pindah-pindah sekolah. Singkat cerita, aku dan ibu lebih sering bersama, tinggal dalam sepetak kamar yang multifungsi sebab paling murah pada saat itu. Membantu bekerja sebagai pembantu dirumah orang lain. Hingga SMP ayah kembali setelah sekian lama, namun yang terjadi ibu mengalami kekerasan namun aku tak bisa menolongnya. Lalu SMA ayah menikah dengan orang lain secara diam-diam, lalu puncaknya diketahui pada saat aku kuliah semester 3. Saat itu ibu menelponku menangis dengan sejadi-jadinya dan berkata ingin mengakhiri hidupnya saja.

Disemester itu pula aku menjadi ketua panitia sebuah acara yang tidak berjalan dengan baik, hal tersebut membuatku merasa bersalah dan membenci diri sendiri akibat tak becus menjadi seorang ketua. Aku pun mengisolasi hidup ku didalam kamar kost, berminggu-minggu, tak membuka jendela, horden, maupun pintu. Tak ada seorangpun tahu aku berada didalamnya. Kemudian ditambah dengan berita dari ibu, yang makin menyebabkan aku terus menyalahkan diriku karena tak bisa menjaga ibuku.

Mulai sejak itu aku tak lagi memiliki gairah untuk hidup dan bermimpi atau bahkan memiliki cita-cita.

Jika kau bertanya kelak aku ingin menjadi apa? Aku pun tak tahu.

Mengapa depresi yang aku alami berlangsung lama?

Sekarang sudah berjalan 2,5 tahun lamanya, ternyata aku belum sembuh. Atas beberapa hal yang terjadi, aku selalu merasa bersalah dan membenci diriku, kemudian sedih berkepanjangan. Di bus umus saja aku bisa tiba-tiba merasa sedih atas apa yang aku lakukan sebelumnya. Akupun memutuskan untuk segera mencari pertolongan, sebelum depresi ini membuatku menjadi orang yang bipolar atau bahkan gila.

Aku mengidap Persistant Depressive Disorder (PDD) yaitu bentuk depresi kronis jangka panjang yang dialami selama bertahun-tahun. Penderitanya akan kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari, merasa putus asa, kurang produktivitas dan memiliki harga diri rendah dan perasaan tidak mampu secara keseluruhan. Gejala yang dialami PDD ini sama dengan gejala-gejala Major Depressive Disorder, namun dengan tingkat keparahan yang lebih rendah dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama, yakni 2 tahun atau lebih.

Bagaimana seorang depresi bisa menulis artikel ?

Sebelum ini, aku memutuskan untuk melakukan konsultasi dengan Psikiater terkait gejala depresi yang aku alami, dokter ini memberi sedikit pencerahan tentang apa yang harus aku lakukan untuk melawan rasa depresi. Beliau juga memberikan ku resep obat agar dapat aku konsumsi setiap malam, tapi jujur setelah mengetahui efek samping dari obat tersebut aku menjadi enggan untuk meminumnya. Tibalah ketakutan ku, sehingga aku bertekad untuk sembuh dengan mengikuti saran-saran dari dokter.

Menulis merupakan salah satu cara yang aku lakukan untuk mengobati depresi ku yakni dengan mengekspresikan rasa sakit, marah, takut, atau emosi lainnya.

Aneh bukan? Terkadang tulisan ku terlihat baik-baik saja bahkan sangat normal untuk orang normal. Kembali lagi, depresi tidak hanya dinilai dari fisik atau hal-hal yang terlihat. Karena sekali lagi ini terjadi akibat aktivitas otak penderita yang berbeda dengan orang normal yang tidak mengidap depresi.

Tahap paling sulit dalam kehidupan bukan tidak ada yang mau mengerti Anda, justru ketika Anda tidak memahami diri Anda sendiri.

Semangat buat kalian siapapun diluar sana yang tengah merasakan gejala sama dengan ku. SEGERA lah konsultasi dengan Psikiater terdekat. Kita bisa sembuh. Percayalah ! 🙂
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: